Lucunya Alasan FPI yang Menolak Pak Ahok jadi Gubernur DKI Jakarta

Rabu, 24 September 2014 kemarin, ratusan massa FPI (Front Pembela Islam) melakukan demo di depan gedung DPRD DKI Jakarta menolak Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta Oktober mendatang menggantikan Joko Widodo (Jokowi). Padahal sesuai dengan konstitusi / undang-undang di Negara RI, Pak Ahok sah menjadi gubernur menggantikan Bapak Jokowi yang saat ini terpilih menjadi Presiden RI periode 2014-2019. Ada yang salah menurut saya jika massa FPI ini melakukan penolakan, mengingat negara ini adalah negara hukum, jadi setiap warga harus taat dan tunduk terhadap hukum yang berlaku di Indonesia. Bukan taat pada ideologi kelompok tertentu.

Penolakan massa FPI ini tentu ada alasan. Dari yang katanya Pak Ahok melarang perdagangan hewan kurban sampai Pak Ahok yang sering berbicara kasar. Beberapa alasan itu, menurut saya aneh, janggal, justru menjadi bahan candaan bagi segelintir orang –salah satunya saya. Beberapa alasan tersebut di antaranya adalah sebagai berikut ini (saya kutip dari berbagai situs berita online):

1. Pak Ahok mengeluarkan instruksi gubernur tentang larangan menjual hewan kurban.

Ahok sudah kurang ajar. Dia dengan seenaknya mengeluarkan instruksi gubernur tentang larangan menjual kambing qurban,” kata salah seorang habib FPI saat berorasi di depan Gedung DPRD DKI, Jakarta Pusat, Rabu (24/9/2014)

“Padahal kambing kurban diperlukan saat Idul Adha, kalau tidak ada yang jual dia menghalang-halangi Islam merayakan Idul Kurban. Sama saja dengan melanggar Konstitusi. Jangan-jangan Ahok anak komunis, jangan-jangan Ahok PKI,” ucap  dia. (sumber: Liputan6.com)

Dari pernyataan tersebut ada beberapa hal yang patut kita pertanyakan pada habib itu:

a. Apakah pak habib sudah membaca Instruksi Gubernur (Insgub) DKI Jakarta No. 67 tahun 2014 tentang Pengendalian Penampungan dan Pemotongan Hewan dalam Rangka Menyambut Idul Fitri dan Idul Adha Tahun 2014/1435 H? Dimana kalimat yang melarang jual-beli hewan kurban itu pak habib?

Bagi pembaca sekalian yang ingin membaca Insgub tersebut silahkan download di sini.

Screen Shoot dari Instruksi Gubernur DKI Jakarta No. 67 Tahun 2014

Screen Shoot dari Instruksi Gubernur DKI Jakarta No. 67 Tahun 2014

Gambar di atas adalah screen shoot dari Instruksi Gubernur DKI Jakarta No. 67 Tahun 2014. Di situ tertulis pada poin 1) melarang kegiatan penampungan dan penjualan hewan pada jalur hijau, taman kota, trotoar, dan fasilitas umum.

Maksud dari poin 1) tersebut menurut saya bukan melarang umat islam jual-beli hewan kurban, tetapi melarang kegiatan penampungan dan penjualan hewan kurban di jalur hijau, taman kota, trotoar, dan fasilitas umum. Kenapa? a) Agar tidak mengganggu ketertiban umum; b) tidak mencemari lingkungan sekitar –disebabkan bau dan kotoran hewan kurban; c) tidak mengganggu orang yang mau lewat di trotoar; d) tidak merusak taman kota; e) sebutkan sendiri yang lain.

Jadi, sangat lucu jika seorang habib berkata seperti pada kutipan di atas, sebab tidak ada kalimat yang menyatakan melarang jual-beli hewan kurban bagi umat islam dalam Insgub tersebut. Maksud dari Pak Ahok dan jajarannya bukan melarang, tetapi menertibkan agar kegiatan jual-beli hewan kurban ini tidak menganggu kenyamanan lingkungan dan ketertiban masyarakat. Budaya tertib ini harus ditegakkan. Kalau masyarakat di Jakarta ini tidak mau diajak tertib, bagaimana kita mau maju? bagaimana bisa Jakarta ini aman? bagaimana bisa Jakarta ini nyaman? bagaimana bisa Jakarta ini maju? bagaimana bisa?

b. Mengapa bapak habib terlalu rasis hingga menyebut pak Ahok itu anak komunis, bahkan PKI? Dimana sikap sopan, santun, dan saling menghargai bapak sebagai seorang muslim yang baik?

2. Pak Ahok sering berbicara kasar.

Salah satu kata kasar dari Pak Ahok yang saya kutip dari website vivanews.co.id:

Yang jual beli lahan pemerintah bajingan

Pembaca tahu tidak tentang majas sarkasme? Ini majas sindiran yang paling kasar. Diucapkan oleh seseorang yang sedang marah, bukan marah tanpa alasan loh ini. Ini marah beneran, masak tanah pemerintah diperjualbelikan. Emang itu tanah punya nenek moyangnya. Majas ini bermaksud menyindir tapi sindiran keras, artinya orang yang disindir ini sudah keterlaluan alias kelewat batas, wajar dong disebut bajingan. Kalo nggak mau disebut bajingan, ya jangan melakukan jual-beli lahan pemerintah. Gitu aja, simpel kan?

Menurut saya, kata kasar boleh saja diucapkan asal tepat guna dan sasaran. Jangan asal berkata kasar, sebab itu menunjukkan pribadi yang tidak baik. Lebih-lebih mengaku umat muslim yang baik, sebaiknya jangan berkata kasar sekalipun itu dalam sindiran. Jadi saran saya, bila ingin berkata kasar silahkan asal tepat guna dan sasaran, tetapi jika pembaca sebagai umat muslim sebisa mungkin hindari kata-kata kasar. Tunjukkan bahwa anda adalah umat muslim yang baik, bukan orang yang berkata kasar tidak tepat guna dan sasaran seperti yang tertulis pada spanduk di bawah ini.

Kata "Bacot" dalam spanduk itu tidak tepat guna dan sasaran.

Kata “Bacot” dalam spanduk itu tidak tepat guna dan sasaran.

Advertisements

3 thoughts on “Lucunya Alasan FPI yang Menolak Pak Ahok jadi Gubernur DKI Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s