Waspada, Kebodohan Tim Redaksi Beberapa Media Zaman Sekarang

Selamat pagi Indonesia. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya.

Apa kabar sahabat opini? Masih suka beropini? Ingat, setiap orang bebas beropini. Tetapi, opini yang baik adalah opini yang didasari oleh fakta-fakta yang mendukung. Dan apapun opini anda, tetap hargai opini orang lain.

Baiklah, setelah lama tak beropini, pagi ini saya akan membahas tentang “Kebodohan Tim Redaksi Beberapa Media Zaman Sekarang”. Kenapa saya mengambil judul seperti ini? Apa yang mandasari saya hingga berani beropini bahwa orang-orang yang berprofesi menulis berita di beberapa media zaman sekarang ini kebanyakan diisi oleh orang-orang bodoh? Wait, jangan tersinggung, tidak semua kok, masih ada segelintir orang yang tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip penulisan berita yang baik. Give applause untuk orang-orang yang masih berpegang teguh pada prinsip-prinsip tersebut.

FAKTA

Beberapa tahun belakangan ini, media online sepertinya sudah menjadi santapan setiap hari bagi netizens di Indonesia. Dilihat dari satu sisi, hal ini sangat baik bahwasanya masyarakat di negara ini semakin banyak yang sadar akan pentingnya membaca untuk memperoleh berbagai informasi. Namun, di sisi lain hal ini bisa menjadi sebuah celah bagi orang-orang bodoh untuk membodohi kita. Alih-alih membuat judul berita menarik, orang-orang bodoh ini menjebak kita dalam rasa penasaran dan bahkan menjebak kita untuk menyimpulkan hal-hal yang kita belum tahu detailnya.

Sahabat opini tentunya sudah sangat sering menjumpai sebuah berita, baik yang diposting di facebook, twitter maupun media sharing lainnya yang judul dengan isi beritanya sangat berbeda jauh dari kata sesuai. Judul berita bilang A, ternyata isi beritanya setelah dibaca maksudnya B. Kira-kira sahabat opini sebel ngga baca berita yang seperti itu? Syukur-syukur sahabat opini sudah baca baru komen (baca: komentar), ada juga lho yang belum baca tapi langsung komen. Padahal, sering sekali judul berita dengan isinya berbeda jauh. Artinya kalau sahabat opini langsung komen dari judul berita saja tanpa membaca isinya bisa dibilang anda berhasil dibodohin sama tim redaksi.  Anda berhasil diprovokasi oleh orang-orang bodoh itu.

Salah satu contoh judul berita yang “provokatif” yang ditulis oleh orang bodoh (mungkin, semoga tidak) dan saya temui di pagi hari ini adalah “Ahok: Ngapain Puasa Kalau Bikin Orang Jadi Mati”. Sangat-sangat provokatif sekali bukan? Apa yang terlintas pertama kali di pikiran anda ketika membaca judul berita ini. Emosi bukan? Atau setidaknya langsung mengumpat Pak Ahok yang kafir lah, yang ngga menghormati orang puasa lah, yang rasis lah, dan lain-lain. Semua umpatan jelek akan terlintas dengan sangat licinnya di otak kita. Dan ini buktinya (lihat gambar di bawah!), ada aja yang jadi korban orang-orang bodoh itu. Mereka belum membaca tetapi langsung komen negatif. Kalau ini di acara salah satu stasiun tv dulu yang host-nya itu Bang Pandji Pragiwaksono, orang-orang bodoh (semoga tidak) yang membuat berita itu langsung bilang begini “Kena deh!”. Atau orang-orang sekarang bilang “nah lo, kena jebakan batman!”

Judul Berita Sampah

Judul Berita yang Diposting di Twitter oleh Akun @VIVAcoid

Judul Berita Sampah2

Judul Berita Setelah Dibuka

Pagi-pagi gitu, setelah sahur, sholat subuh dan baru mau mulai puasa, tetapi sudah dimulai dengan memprovokasi yang tidak baik. Ini kan bisa membatalkan ibadah puasa diri sendiri dan orang-orang yang terprovokasi. Betul tidak sahabat opini?

Sahabat opini baca deh komen dari akun @iip_supriatnaa dan @akuhyoga pada gambar di atas. Dua orang ini sepertinya tidak membaca isi beritanya terlebih dahulu dan langsung komen. Ini nih contoh orang-orang yang kena jebakan batman, eh badman (yang membuat judul berita kan badman, semoga tidak). Padahal, isi beritanya tidak seperti di judul. Isi beritanya Pak Ahok baik loh, justru menasihati dan menghimbau masyarakat muslim untuk berhati-hati dalam mengonsumsi makanan berbuka puasa. Baca sendiri ya berita lengkapnya di link ini Ahok: Ngapain Puasa Kalau Bikin Orang Jadi Mati (semoga belum dihapus oleh tim redaksi).

Jadi sahabat opini tentunya sudah tahu ya sekarang, jangan sampai kena jebakan badman. Baca dulu baru komen. Atau mending ngga usah baca sekaliyan. Kenapa begitu? Nanti akan saya jelaskan di bagian selanjutnya. Dan yang membuat judul berita tidak sesuai (baca: judul berita sampah) tidak hanya Viva.co.id. Masih banyak media-media online ternama lainnya yang sepertinya latah juga. Belum lagi media-media online yang notabene tidak muncul kalau di-search di google, mereka membuat judul berita lebih ngulik dan menggelitik lagi. Dua kata buat sahabat opini “HATI-HATI”.

PRINSIP-PRINSIP MENULIS BERITA YANG BAIK

Baiklah sahabat opini, disini saya akan sedikit memaparkan ‘prinsip-prinsip menulis berita yang baik’ yang saya peroleh dari membaca beberapa blog. Saya bukan orang jurnalistik, saya juga tidak ahli dalam hal itu, tetapi apa yang tulis pada bagian ini adalah 100% saya peroleh dari membaca, mohon dikoreksi jika ada kesalahan.

Kriteria judul berita yang baik yang saya salin dari sebuah blog:

 Judul berita sangat penting untuk mengantarkan pembaca masuk ke dalam berita. Ia digunakan untuk merangkum isi berita kepada pembaca mengenai isi berita. Karenanya, penulisan judul berita hendaknya dibuat dengan mengikuti kaidah penulisan judul berita.

Judul berita memiliki beberapa fungsi, yakni untuk menarik minat pembaca; merangkum isi berita; melukiskan “suasana berita”; menserasikan perwajahan surat kabar.

Judul berita sebaiknya sesuai dengan teras berita. Artinya, tidak ada pertentangan antara keduanya. Judul juga sebaiknya memakai kalimat positif serta diusahakan senetral mungkin. Prinsip cover both side (menampilkan dua sisi dalam pemberitaan) diimplementasikan – salah satunya – dalam penulisan judul berita. Selain itu judul berita juga sebaiknya dibuat dengan menggunakan kata-kata yang sederhana dan sejelas mungkin.

Jadi, judul berita itu tidak hanya menarik minat pembaca, tetapi juga merangkum isi berita dan melukiskan suasana berita. Tetapi zaman sekarang, judul berita itu dibuat se-ngulik dan seaneh mungkin agar pembaca itu penasaran untuk mengklik link yang tertera. Padahal konten beritanya sangat-sangat tidak sesuai dengan judul. Kenapa mereka membuat judul berita seaneh mungkin? Iya, karena aneh, maka akan banyak yang penasaran dan mengklik link tersebut. Ini akan meningkatkan rating pengunjung website mereka. Semakin tinggi rating pengunjung mereka maka website mereka akan semakin populer di google (terindeks di halaman pertama google). Jika semakin populer tentunya banyak sekali pihak-pihak yang ingin memasang iklan di website mereka, tentunya dengan harga yang fantastis. Makanya sahabat opini, jangan mau dibodohi mereka. Jangan mau mengklik berita dengan judul yang mengandung unsur pembodohan dan provokatif.

Sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik hasil Kongres XXII di Banda Aceh 27-29 Juli 2008, ada beberapa poin penting yang saya catat mengenai aturan-aturan dalam pemberitaan:

1. Seorang jurnalis itu harus independen, tidak boleh ada paksaan atau intervensi dari luar bahkan dari pemilik perusahaan pers itu sendiri. Hal ini sesuai isi dari Penafsiran Pasal 1 ayat 4.

2. Wartawan wajib mempertimbangkan patut tidaknya menyiarkan tulisan, gambar, suara, serta suara dan gambar yang dapat membahayakan keselamatan dan keamanan negara ialah memaparkan atau menyiarkan rahasia negara atau rahasia militer, dan berita yang bersifat spekulatif.

3.  Dalam Penafsiran pasal 3 ayat 2, bahwa wartawan tidak menyiarkan karya jurnalistik yang membingungkan, meresahkan, membohongi, membodohi atau melecehkan kemampuan berpikir khalayak.

4. Dalam Penafsiran pasal 6 bahwa pemberitaan hendaknya tidak merendahkan atau merugikan harkat-martabat, derajat, nama baik serta perasaan susila seseorang.

Baiklah sahabat opini, tidak semua poin saya tulis di sini, saya pikir 4 poin di atas sudah mewakili. Dari keempat poin tersebut saya pikir sudah jelas bahwa salah satunya karya jurnalistik itu tidak boleh yang membingungkan, meresahkan, membohongi, dan membodohi masyarakat. Jadi menurut sahabat opini jika media-media online saat ini membuat judul berita yang membodohi, membohongi, memprovokasi, mencela, merendahkan martabat seseorang, dan tidak sesuai dengan isi berita itu salah atau tidak? Bayangkan jika seperempat saja dari jumlah penduduk Indonesia ini terprovokasi seperti dua orang pada contoh fakta di atas. Bisa saja terjadi permusuhan, kerusuhan, dan akan menganggu stabilitas keamanan negara. Lebih parah lagi akan merusak rasa persatuan dan kesatuan bangsa dan negara ini. Hancurlah Indonesia tercinta ini oleh segelintir orang-orang yang hanya mengedepankan kepentingan pribadi dan golongan.

Wahai Bapak, Ibu Tim Redaksi, dimana nuranimu? Dimana nasionalisme mu?

HARAPAN

Harapan saya, semoga banyak insan jurnalistik yang membaca sebuah opini dari saya ini. Saya yakin anda tidak bodoh, hanya saja terlalu pintar untuk membodohi. Saya harap anda tidak membuat berita-berita yang membuat opini umum salah kaprah. Jangan memprovokasi melalui tulisan-tulisanmu. Jangan merusak perdamaian, persatuan, dan kesatuan bangsa Indonesia. Jadilah bagian dari warga negara yang baik. Bukan menjadi warga negara yang menginginkan perpecahan bangsa dan negaranya. Mari membangun generasi manusia Indonesia yang cerdas dan memiliki rasa nasionalisme yang tinggi.

Dan untuk sahabat opini, saya berharap jangan mudah terprovokasi. Jika ingin komen lebih baik baca terlebih dahulu isi beritanya. Atau lebih baik anda tidak usah percaya sama sekali dengan judul berita tersebut. Jangan menjadi minions (budak-budak) media online.

Damailah Negeriku, Damailah Indonesiaku!

Advertisements

2 thoughts on “Waspada, Kebodohan Tim Redaksi Beberapa Media Zaman Sekarang

  1. ca-ca says:

    Bener banget, beberapa sumber media sekarang emang begitu ( banyak banget entah dari tv, koran dan kawan kawannya ) bukan cuman judulnya kadang beritanya juga di lebih-lebihkan tapi memang kalau judul seperti itu mungkin lebih memicu rasa ingin tahu pembaca, semacam daya jual gitu lah…

    Btw, gua jadi penasaran dengan posting postingan lu ✌

    • Kalo dibilang daya jual sih blm tentu juga Ca. Sebab banyak juga yg ga sempat baca, tetapi langsung komen begitu saja. Padahal isi berita 100% berbeda dengan Judul. Kan bahaya itu, menyesatkan.
      Nah, menurut peraturan juga tidak boleh seperti itu. Dalam kode etik jurnalistik, judul itu harus merepresentasikan isi berita.

      Baca juga yg judulnya “Tentang Perbedaan” Ca!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s