Setya Novanto dan Sudirman Said harus Turun dan Diperiksa KPK

ketua-dpr-setya-novanto-dan-menteri-esdm-sudirman-said

Setya Novanto dan Sudirman Said

Akhir-akhir ini, kira-kira sudah satu minggu lebih, begitu mendengung di telinga kita tentang berita “Papa Minta Saham.” Banyak orang yang langsung menjustifikasi berita ini dengan asumsi dan opini masing-masing. Ada yang memojokkan Bapak Setya Novanto, ada juga yang memojokkan Bapak Sudirman Said. Semua memang memiliki hak masing-masing dalam berasumsi. Bahkan tidak jarang asumsi-asumsi yang muncul di permukaan ini masih merupakan efek dari kalor laten pemilu 2014 lalu.

Wajar memang, jika kita berpihak pada seseorang maka terkadang kita secara tidak sadar akan menutup mata hati kita, menutup sebagian arus-arus logika dalam otak kita, dan tidak sedikit yang benar-benar membutakan matanya sehingga seolah orang yang kita dukung itu layaknya nabi atau setidaknya orang yang dinabikan. Dengan segala permainan kata-kata ia memutar balikkan fakta, dan menyebarkan opini-opini yang meracuni masyarakat untuk mengatakan bahwa hal ini benar atau salah.

Saya tidak mengerti dengan kondisi politik Indonesia saat ini. Seperti sebuah drama, banyak intrik dan konflik yang dibuat-buat yang akan menusuk hati penontonnya untuk menangis, marah, tertawa, ataupun bahagia. Kondisi yang cukup memprihatinkan bagi saya karena kebenaran tidak berdasarkan fakta, tetapi berdasarkan apa yang diyakini, dianut, dan diimani benar. Sementara cukup dengan sedikit sandiwara seolah-olah hal itu faktanya. Tidak heran bila saat ini yang mengisi kursi-kursi jabatan politik di atas sana kebanyakan adalah orang-orang yang pandai bersilat lidah saja, tetapi miskin ilmu. Tidak heran jika mereka berlomba-lomba mencari kemakmuran untuk diri sendiri, kolega, dan partainya. Tidak heran jika mereka yang duduk di atas sana, di kursi sofa-sofa yang empuk dan mewah itu, mereka tidak tahu bagaimana cara meningkatkan taraf hidup warganya tetapi mereka justru sibuk menaikkan taraf hidup diri sendiri.

Tetapi, saya akui masih ada pejabat-pejabat yang memang benar-benar jujur dan melakukan tugasnya dengan baik untuk memperjuangkan keadilan dan kemakmuran rakyatnya. Salut sama para pejabat yang seperti itu, mengingat godaan yang mengelilinginya bagaikan terpaan badai yang tak henti-hentinya menerjang.

Kali ini, saya ingin mengungkapkan opini saya mengenai pemberitaan yang menyangkut dua orang tokoh yang tertulis pada judul artikel saya.

Bagi saya, dua orang itu baik Setya Novanto maupun Sudirman Said dua-duanya harus mundur saja. Mereka telah memberi contoh berpolitik yang tidak sehat. Mereka seperti sedang memainkan sebuah drama konyol.

Sudirman Said (katanya) telah membuat surat untuk memperpanjang kontrak dengan PT Freeport Indonesia (PTFI). Ini artinya mengizinkan Freeport mengekspor langsung bahan mentah ke luar negeri. Jelas hal ini menyalahi Undang-Undang tentang Mineral dan Tambang, berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara, perusahaan tambang dilarang menjual bahan mentah ke luar negeri dan larangan tersebut akan dilaksanakan pada 12 Januari 2014. Saya tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Bapak Sudirman Said. Meskipun kini beliau seolah-olah mau jadi pahlawan dengan membongkar rekaman pertemuan Setya Novanto dengan petinggi PTFI yang ditebengi oleh seorang pengusaha. Tetapi, tetap saja Sudirman Said ini seperti maling teriak maling. Tetap saja Sudirman Said ini terlihat mengalihkan isu surat perpanjangan kontrak dengan PTFI yang telah dia buat itu.

Berikutnya, Setya Novanto, jelas sekali beliau ini tidak layak jadi ketua DPR, beliau lebih cocok jadi pedagang. Sangat memalukan sekali apa yang anda bicarakan dalam rekaman pertemuan anda dengan petinggi PTFI yang diputarkan di salah satu media beberapa hari lalu.

Ternyata Setya Novanto ini hanya ingin main-main. Ternyata dia hanya ingin memperkaya diri sendiri. Dan lucunya dia justru mengatakan bahwa apa yang dia bicarakan di dalam rekaman itu adalah candaan/lelucon biasa. Oh, Setya Novanto, saya pikir rakyat Indonesia ini tidak bodoh, kami ini manusia-manusia Indonesia yang terdidik dan terpelajar, tidak semudah itu kami bisa dibohongi. Justru kami sekarang tahu siapa Setya Novanto yang sebenarnya melalui rekaman suara itu. Benar-benar memperburuk citra DPR di mata masyarakat.

Baiklah, sekian opini saya, kesimpulannya adalah kedua orang ini harusnya turun, mereka tidak layak jadi menteri dan ketua DPR. Turun saja (mengundurkan diri), itu lebih terhormat daripada diturunkan paksa oleh KPK. Saya berharap KPK usut kasus ini sampai tuntas, jangan takut dengan intervensi dari sana-sini yang akan mengendurkan urat nadi keberanian KPK dalam membersihkan pejabat-pejabat korup.

Advertisements

2 thoughts on “Setya Novanto dan Sudirman Said harus Turun dan Diperiksa KPK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s