Sesuatu Sering Dianggap Benar Karena Menguntungkan

Touch Your Soul

Sumber gambar: http://dinarobison.com/

Disadari atau tidak kita sering berada dalam kondisi yang membenarkan sesuatu dengan catatan sesuatu itu menguntungkan bagi kita. Kita terjebak oleh keinginan dan nafsu kita, sehingga kita melupakan jati diri kita.

Kondisi yang membenarkan sesuatu karena menguntungkan pribadi inilah yang disebut dengan kebenaran selektif. Kebenaran yang memilih-milih. Membenarkan sesuatu karena menguntungkan atau memberi kenikmatan yang fana.

Sayangnya, sepertinya tidak semua dari kita yang menyadari itu semua. Padahal, seharusnya kita tengok isi hati kita yang paling dalam sebelum menentukan apakah itu benar karena memang benar atau benar karena menguntungkan kita. Hati atau jiwa itu tidak bisa berbohong, tetapi pikiran bisa memanipulasinya. Pikiran dan ego akan bekerja sama menentukan cara pandang kita terhadap sesuatu.

Sebagai contoh para koruptor. Mereka membenarkan segala cara agar pribadi dan golongannya (partai) menadapat keuntungan yang sebesar-besarnya saat mereka menjabat. Mereka lupa akan jati diri mereka. Pantas saja jika mereka tertangkap atau ditetapkan sebagai tersangka, mereka masih tidak mau mengakuinya karena mereka menganggap cara-cara yang mereka pakai adalah cara yang benar.

Ada sebuah kisah. Seorang guru (sebut saja Pak Dul) yang memiliki anak masih SD. Anaknya tiba-tiba tidak mau sekolah lagi keesokan harinya karena dia takut gurunya akan memarahinya lagi. Memang anak Pak Dul ini agak susah dalam mata pelajaran berhitung. Melihat kejadian itu, Pak Dul datang ke sekolah anaknya untuk menemui guru kelas anaknya. Sesampai di sekolah anaknya, Pak Dul marah kepada guru itu. Dia mengatakan bahwa guru itu salah dalam mendidik anaknya, tidak becus dan lain-lain.

Di hari lain, Pak Dul juga diprotes oleh orang tua muridnya karena Pak Dul memarahi muridnya dengan kata-kata kasar dan membuat malu muridnya. Tetapi Pak Dul membantahnya, dia mangatakan “Tidak bisa begitu pak, ini bukan kesalah saya. Saya ini sedang mendidik anak anda agar menjadi lebih baik. Anak anda ini sudah sangat keterlaluan. Tidak bisa ditoleransi lagi. Wajar kalau saya memarahinya.”

Bagaimana menurut anda kisah Pak Dul ini?

Semoga saja kita terhindar dari sifat buruk ini sobat. Mari kita tengok jiwa kita, masihkah kita sering membenarkan sesuatu karena nafsu kita? Jangan sampai kita terjebak dalam pikiran dan ego kita sendiri. Karena jiwalah yang tahu kebenaran yang sesungguhnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s