Hebatnya Negeriku, Orang Baik Dibenci, Orang Salah Jadi Duta

Kira-kira 6 bulan terakhir ini, hampir seluruh media memberitakan bakal calon gubernur DKI yang sampai saat ini masih menjabat sebagai gubernur DKI, Basuki Tjahaya Purnama “Ahok”. Dari semua berita-berita yang ada, ada yang membahas prestasi pak Ahok, tetapi juga tidak sedikit media yang lebih suka menampilkan kesalahan atau kejelekkan pak Ahok, meski berita itu sifatnya masih desas-desus atau opini seseorang.

Saya menulis artikel ini bukan berarti saya pendukung Pak Ahok, saya juga tidak 100% percaya terhadap pak Ahok. Saya juga tidak sedang berusaha mempengaruhi anda untuk menyukai pak Ahok. Silahkan membenci pak Ahok, itu pilihan anda. Tetapi jangan membenci karena hasutan atau opini seseorang yang belum jelas kebenarannya. Jangan jadi bangsa yang mencintai desas-desus.

Menurut saya, pak Ahok baik. Saya tahu pak Ahok berusaha menegakkan keadilan. Saya tahu pak Ahok tak pandang bulu dalam menegakkan hukum. Tetapi, lagi-lagi, Pak Ahok bukanlah dewa, pak Ahok hanya manusia biasa, yang juga bisa salah dan tak adil. Oleh karena itu saya tidak bilang bahwa pak Ahok 100% bersih dan jujur.

Namun, terlepas dari pak Ahok sebagai manusia biasa, saya menyadari bahwa pak Ahok ingin membuat Jakarta lebih baik. Jakarta yang tidak banjir, Jakarta yang tidak semrawut, Jakarta yang tidak kumuh, Jakarta yang ramah, Jakarta yang makmur, otak ekonominya selalu berusaha agar pendapatan pemprov DKI selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya (note: bukan pendapatan kantong pribadi). Kalau pemprov DKI punya banyak duit, ujung-ujungnya juga kembali ke rakyat DKI. Untuk membangun sarana dan prasarana, untuk membiayai kartu Jakarta sehat dan pintar, untuk membangun rumah susun yang layak bagi warganya, untuk membuat perusahan daerah sehingga membuka lapangan kerja, dan masih banyak yang lain. Sehingga pemprov DKI tidak bergantung pada pihak swasta atau asing. Ya, setidaknya itulah Pak Ahok di mata saya. Semoga kemarin, hari ini, dan esokĀ  pak Ahok akan selalu seperti itu, sehingga saya tidak perlu membuat artikel baru untuk merevisi artikel saya kali ini.

Sayangnya, 6 bulan terakhir ini Pak Ahok diterjang badai yang bertubi-tubi. Apalagi setelah beliau mendeklarasikan akan maju dalam pilkada DKI 2017 secara independen. Tentu saja hal ini sebuah tamparan keras bagi partai-partai yang ada saat ini. Pak Ahok bak melempar batu ke sarang lebah sehingga lebah-lebah itu jadi berisik dan marah. Jadi ya wajar, jika banyak yang tidak suka dengan pak Ahok.

Seperti yang anda tahu, begitu banyak pihak yang ingin menjatuhkan popularitas dan elektabilitas Pak Ahok. Mulai dari aktivis HAM, ahli sejarah, anggota DPR, maupun DPRD DKI dan masih banyak lagi oknum-oknum lain yang merasa terganggu dengan kebijakan dan cara kerja pak Ahok yang jadi ikut-ikutan latah memusuhi Pak Ahok. Belum lagi, para jemaat-jemaat atau majelis-majelis itu, isu SARA selalu menjadi senjata utama dalam menciptakan opini buruk tentang pak Ahok.

Memang benar apa yang dibilang dalam peribahasa, “Semakin tinggi dan besar pohon, semakin besar pula angin yang menerpanya”. Ya, semakin baik dan jujur seseorang maka semakin banyak orang yang memusuhi. Sama halnya dengan pak Ahok, akan semakin banyak bergesekan dengan orang-orang yang memiliki kepentingan pribadi.

Parahnya lagi, orang-orang yang merasa dirugikan akibat kebijakan pak Ahok ini menjadi orang yang benar-benar antipati sama pak Ahok. Bahkan terkadang membuat argumen-argumen menjatuhkan nama pak Ahok yang bikin gelak tawa (bagi saya) sebab tidak logis.

Oh negeriku, negeriku, terkadang saya tertawa dengan kelakuan hebatmu ini. Tetapi saya juga malu, kenapa kau seperti itu.

Baiklah, topik selanjutnya yang ingin saya bahas adalah kehebatan yang kedua. Jika tadi yang pertama adalah orang baik malah dibenci, maka yang kedua ini adalah 180 derajat kebalikannya, yaitu orang salah dijadikan duta.

Sungguh hebat negeri ini, orang-orang yang salah justru dijadikan sebagai figur teladan. Sebut saja Zaskia Gotik, setelah melecehkan lambang negara malah dijadikan duta pancasila. Ada lagi Sonya Depari, seorang siswi di Medan, setelah melawan polisi dan mengaku anak pejabat BNN saat terkena razia polisi malah jadi duta narkoba. WTF Man (sorry, saya begitu emosional saat menulis paragraf ini)!

Setahu saya, hukum dan norma apapun di dunia ini tentu mengajarkan bahwa seseorang yang dijadikan teladan yang baik adalah orang yang memang berprestasi dalam bidang itu, atau selama hidupnya ia menjunjung dan menegakkan nilai-nilai yang bisa menjadi teladan. Tidak ada hukum atau norma dari manapun itu yang mengajarkan bahwa orang salah bisa dijadikan teladan. Kecuali orang itu memperbaiki kesalahannya dan dalam waktu yang lama mengamalkan nilai-nilai yang dapat dijadikan teladan. Jadi tidak pernah ada mantan pembunuh, tiba-tiba menjadi seorang duta anti kriminalitas. Sehingga saya berkesimpulan bahwa fenomena orang salah jadi duta ini semacam kegilaan yang diinginkan dan dilakukan dengan penuh kesadaran. Hebat bukan?

Saya khawatir, suatu saat akan ada duta anti pelecehan seksual terhadap anak dan perempuan padahal dia adalah seorang mantan pelaku tindakan pelecehan seksual. Mungkin juga akan ada koruptor jadi duta anti korupsi. Ah, semoga itu hanya imajinasi saya, bukan sebuah kelatahan yang menular.

Sekian artikel saya kali ini. Saya sangat berharap komentar dari pembaca sekalian mengenai pendapat saya ini. Semoga negeri kita menjadi negeri yang sadar dan tidak melakukan hal-hal hebat yang lucu sekaligus memalukan seperti ini.

Berikut puisi karya saya, yang mungkin bisa menggambarkan suasana hati saya dalam menanggapi kondisi dan fenomena yang terjadi di negeri kita saat ini.

Oh Negeriku

Oh negeriku,

Negeri yang kata orang sana adalah negeri yang ramah,

tetapi kenapa kau menjadi garang dengan saudaramu sendiri

menjadi begal terhadap bangsamu sendiri?

Kenapa?

 

Oh negeriku,

Kekonyolan apa yang sedang kau cari?

Tidakkah kau malu?

 

Oh negeriku,

kenapa mudah sekali kau dihasut dan diadu?

kenapa kau senang sekali tercerai berai?

Kenapa kau senang berperang hanya karena berbeda?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s